Rabu, 15 Februari 2017

Upacara Sekaten

Upacara Sekaten


Upacara sekaten adalah ritual budaya Jawa yang berada di Kraton Yogyakarta dan dirayakan setiap tahun. Upacara ini diselenggarakan untuk memperingati hari kelahiran (Mulud) Nabi Muhammad SAW. Upacara Sekaten dilaksanakan selama 7 hari berjajar, yaitu pada  tanggal 5 Mulud (Rabiulawal) di sore hari sampai dengan tanggal 11 Mulud (Rabiulawal) di tengah malam. Tujuan lain dari penyelenggaraan upacara ini adalah untuk sarana penyebaran agama Islam dan menunjukan kehargaan sang Rasul dengan memperingati hari lahirnya.

Orang punya pendapat berbeda dengan asal nama ‘sekaten’. Ada yang bilang bahwa kata sekati, yaitu nama dari Doa perangkat gamelan pusaka Kraton Yogyakarta yang bernama Kanjeng Kyai Sekati yang ditabuh dalam rangkaian acara peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Atau juga Sekaten bisa berasal dari kata suka & ati yang berarti senang hati. Hal ini didasarkan karena pada saat menyambut perayaan kelahiran Nabi Muhammad SAW, orang-orang dalam suasana bersuka hati dan gembira. Pendapat lain mengatakan bahwa sekaten berasal dari kata syahadatain, yaitu 2 kalimat syahadat yang diucapkan seorang ketika dia niat memeluk agama Islam. Pendapat ini didasari karena penyebaran agama Islam membawa banyak orang untuk pindah agama sejak jaman dahulu.

Upacara ini dimulai dari memukul gamelan pusaka dan Kanjeng Kyai Sekati di kraton. Ketika jalan ke masjid, masyarakat Yogya beranggapan jika ikut serta dalam peringatan ini akan mendapat imbalan dari Tuhan. Mereka lalu harus mengunyah sirih di halaman Masjid Agung disaat acara dimulai. Mereka memukul gamelan lagi di masjid besar. Lalu ada penyebaran udhik – udhik oleh Sultan dan pembacaan riwayat Nabi Muhammad SAW. Ini dilanjutkan dengan penyematan bunga kanthil di kuping sultan saat pembacaan riwayat nabi sampai pada asrokal. Terakhirnya, sultan dan gamelan kembali ke kraton.
 

Tata cara acara ini dibagi dengan 5 tahap. Yang pertama adalah tahap persiapan. Di tahap ini, pengikut menyucikan diri melalui sikap (wujud non - fisik) dan membawa benda perlengkapan (wujud fisik). Lalu ada tahap gamelan sekaten mulai dibunyikan, di mana gamelan dibunyikan di kraton. Langkah ktiga adalah tahap gamelan dipindah ke masjid besar. Ke,udian ada tahap Sultan hadir di Masjid Besar, diselenggarakan dengan pembacaan riwayat Rasul dan penyebaran udhik-udhik oleh sultan. Terakir adalah tahap kondur gongsa (proses mengembalikan gong ke kraton).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar